 |
|
Sabtu (24/07/04). Pagi sekitar pukul 09.00 Wib. Beberapa
aparat polisi dari Polsek Sibreh Aceh Besar, pasukan brimob Polda Aceh dan aparat TNI dari Kodim 0101 Aceh Besar. Mereka yang
dibantu beberapa relawan Satgana PMI Aceh Besar, pergi ke gunung yang tak jauh dari Sibreh. Di kaki bukit Lhok Ndoe, Desa
Nya, Simpang Tiga Aceh Besar, mereka berhenti. Beberapa mereka langsung menuju tempat yang telah menjadi sasaran. Bukan
untuk menyergap pasukan GAM yang bersembunyi di pebukitan. Melainkan, mereka ingin membongkar liang kubur. Belakangan di liang
itu diketahui, dua mayat bersarang: Bastian (31) dan Hasrifuddin (29). Warga Lambheu Aceh Besar, menjadi "penghuni" liang
kubur itu. Kedua penduduk yang berprofesi sebagai pedagang keliling itu, sejak April 2004 dinyatakan oleh keluarganya menghilang. Belakangan
juga diketahui kalau kedua orang ini diduga diambil anggota GAM Aceh Besar. Dua mayat ini, kondisinya tinggal kerangka. Batok
kepala, pecah. Butir selongsong peluru AK-47, ditemukan dalam liang. Diduga, dengan butiran peluru itu, mereka dihabisi. Sungguh,
Sabtu siang itu, masyarakat Sibreh baru tahu, kemanusiaan telah tercabik! Padalah, pagi hari, saya bertemu dengan kawan
lama saya semasa kuliah di sebuah warung kopi. Saya bertanya: "Di mana kuburan massa di Sibreh?". Dia memang pemuda Sibreh.
Tak jauh dari Simpang Tiga itu. "Setahu saya, tidak ada kuburan massal. Kemarin saya bertemu dengan Pak Kapolsek, beliau
tidak bilang apa-apa," katanya. Saya pun mencoba memberikan dia bukti. Sebuah Short Message Service (SMS) yang nongol di
HP saya. "Wah, sudah kehapus," kata saya kemudian. Dia pun pulang. Sembari mengajak saya ikut ke Sibreh bersamanya.
Saya menolak dengan halus. Dia kawan baik saya. Aktif sejak semasa mahasiswa. Kawan saya itu, mungkin bisa mewakili beberapa
lainnya, yang tidak terlalu mengetahui tentang adanya kuburan massal itu. Mereka tidak salah. Informasi yang tertutup, selama
ini. Saya memutuskan untuk mengontak kawan-kawan lain memastikan adanya kuburan massal itu. Siang Sabtu itu, menjadi
pembukti, bahwa kemanusiaan telah tercabik-cabik (lagi). Dulu sih sangat sering kemanusiaan tercabik di Aceh. Entahlah,
sampai kapan kemanusiaan akan terus dilecehkan. Semoga ini tidak berlangsung lama.
|
 |
|
|
|
 |
|

Aku tergerak untuk menyosialisasikan Aceh Damai tanpa
desingan peluru, tanpa air mata terurai, tanpa darah menetes membasahi jagat Aceh. Sudah sepatutnya rakyat Aceh mempunyai
hak untuk hidup dalam damai. Kenapa Aceh yang Damai dan Bermartabat harus dibayar mahal oleh rakyat Aceh? http://efmg.blogspot.com
|
 |
  
Aku datang dari sebuah keluarga miskin dari sebuah
desa yang nyaris tidak ada dalam peta. Di pedalaman Pidie, Aceh yang sering menjadi pusat pergolakan itu. Sedih!
Menamatkan pendidikan dasar di MIN Keumala Pidie,
pada 1992. Sekolah menengah dihabiskan di Dayah Jeumala Amal, Lueng Putu Pidie (1992-1998). Sebelum akhirnya menamatkan pendidikan
tinggi di jurusan Ilmu Komunikasi dan Penyiaran di Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, pada Agustus 2002.
Semasa kuliah, aktif di pers mahasiswa. Ikut membidani
lahirnya Tabloid Berita Mahasiswa TAJAM di jurusan KPI Dakwah, pada 2001.
Usai menamatkan kuliah, bergabung dengan Tabloid
Berita Hukum dan Politik MODUS sejak 1 April 2003. Setelah sebelumnya bergiat di sebuah tabloid lokal di Banda Aceh.
Sejak Januari 2004, menjadi korespondes Suara
Merdeka CyberNews, divisi internet Harian Umum Suara Merdeka Semarang Jawa Tengah.
Pada Oktober 2003 dan Maret 2004, juga ikut menulis
di Majalah Bali berbahasa Inggris, Latitudes Magazine.
|
|